Dobrak Keterbatasan Daerah 3T, BPJS Kesehatan Luncurkan LANURI dan Catat Capaian Quick Wins 91,53%
BBI.COM, JAKARTA – Kesenjangan akses layanan kesehatan dan kendala geografis di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Menjawab persoalan krusial tersebut, BPJS Kesehatan resmi meluncurkan program Layanan Ujung Negeri (LANURI). Langkah strategis ini mengintegrasikan dua inovasi utama: VIOLA (Virtual Office Layanan Informasi dan Administrasi) serta layanan jemput bola BPJS Keliling.
Peluncuran ini dilakukan serentak di 558 titik kabupaten/kota di seluruh Indonesia pada Senin (13/07), sekaligus menandai penutupan (closing) program Quick Wins 100 Hari Kerja Direksi BPJS Kesehatan.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menegaskan bahwa LANURI hadir sebagai solusi atas belum meratanya infrastruktur digital di Indonesia. Faktor keterbatasan jaringan komunikasi data (jarkomdat), kondisi geografis ekstrem, dan literasi digital yang belum merata menjadi alasan kuat mengapa kanal digital murni belum bisa diterapkan secara instan di wilayah 3T.
“Hari ini kita laksanakan LANURI serentak di 558 titik kabupaten/kota se-Indonesia, dengan melibatkan 126 Kantor Cabang. Sebanyak 179 titik menyediakan layanan BPJS Keliling, sementara di 379 titik lainnya menghadirkan layanan VIOLA. Harapan kami, LANURI dapat memudahkan akses layanan JKN bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil,” ujar Prihati Pujowaskito yang didampingi Direktur Kepesertaan, Akmal Budi Yulianto.
VIOLA sendiri merupakan kanal berbasis video conference secara real-time yang menghubungkan masyarakat langsung dengan petugas. Menariknya, selama periode Januari-Mei 2026, tercatat sudah ada 218.729 pemanfaatan VIOLA, di mana Puskesmas menjadi lokasi pelaksanaan terbanyak. Segmen masyarakat yang paling diuntungkan dari layanan ini adalah peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).
Selain meresmikan LANURI, manajemen BPJS Kesehatan memaparkan capaian Quick Wins 100 Hari Kerja Direksi yang berhasil menyentuh angka 91,53%. Capaian ini ditopang oleh dua pilar program utama:
Program Customer Centric (Fokus Peserta) Merespons kebutuhan fundamental peserta JKN berdasarkan aspirasi langsung masyarakat bawah. Program Collaborative (Sinergi Stakeholders) Memperluas jangkauan layanan terintegrasi dengan melibatkan berbagai instansi strategis.
Beberapa program utama yang telah dinyatakan tercapai antara lain, JKN 3T: Kerja sama dengan kapal bantu rumah sakit serta pengiriman tenaga kesehatan ke daerah terpencil, P-Care MBG: Pemantauan kesehatan petugas SPPG serta tumbuh kembang siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG), serta Elimination Inefisiensi: Penerapan intelligence claim untuk menekan potensi fraud (kecurangan) dan efisiensi biaya.
Keberhasilan program LANURI di lapangan dipastikan mendapat dukungan penuh dari berbagai instansi untuk memperkuat infrastruktur dan pengamanan layanan.
1. Kementerian Koperasi dan UKM
Deputi Bidang Pengembangan Usaha Koperasi, Panel Barus, mengapresiasi terobosan ini. Ia menegaskan siap menggerakkan jaringan Koperasi Desa Merah Putih yang memiliki akses internet hingga ke tingkat desa untuk menjadi menyokong jalannya VIOLA dan BPJS Keliling.
2. Pusat Kesehatan TNI
Tantangan keterbatasan SDM dan transportasi di daerah 3T akan dieliminasi lewat kekuatan militer. Kepala Pusat Kesehatan TNI, dr. Hadi Juanda, menyatakan siap mengerahkan jaringan kesehatan TNI, kapal rumah sakit untuk pulau terpencil, hingga memobilisasi sekitar 76.000 personel Babinsa guna menyukseskan operasional LANURI di lapangan.
Dengan tingkat capaian yang tinggi dan kolaborasi solid lintas institusi, program LANURI diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial 100 hari kerja, melainkan fondasi kokoh demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam mengakses hak kesehatan mereka.


